AL-QURAN 1

Wednesday, January 6, 2016

MAKNA KEMATIAN DALAM ISLAM

Umat manusia hidup di dunia ini sangat terbatas dan tidak bertahan lama, bila dibandingkan dengan eksistensi alam semesta ini. Rata-rata kehidupan di dunia ini selama 63 tahun, sebagaimana usia Rasulullah Saw. Apabila ada orang yang dianugerahi usia lebih dari itu, maka itu merupakan bonus dari Allah Swt. Setiap manusia mesti mengalami akhir kehidupan itu, yang sering disebut dengan kematian. Hal ini dinyatakan secara tegas di dalam al-Quranul Karim pada S. Ali 'Imran: 185; 
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan baru pada hari kiamatlah 
disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke 
dalam surga, maka sungguh ia beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah 
kesenangan yang memperdayakan."


Kematian ini merupakan salah satu bahasan ilmu Eskatologi yang termasuk cabang Teologi. Menurut Eliade, Eskatalogi termasuk bagian dari agama dan filsafat yang menguraikan secara runtut semua persoalan dan pengetahuan tentang akhir zaman, seperti kematian, alam barzah, kehidupan surga dan neraka, hukuman bagi yang berdosa, pahala bagi yang berbuat baik, hari bangkit, pengadilan pada hari itu, dan sebagainya. Secara ringkas Barnhart menjelaskan "Eschatology is a doctrina of the last or final things, specially death, judgment, heaven and hell". Eskatologi ialah ajaran tentang akhir segala sesuatu, khususnya kematian, pembalasan, surga, dan neraka.

Kematian itu sesuatu yang mesti terjadi pada seseorang, walaupun ia berusaha menghindari kematian atau berusaha bersembunyi dan berlindung di tempat yang dikira aman. Seseorang tidak dapat lari dan menjauhi kematian. Hal ini secara tegas dikemukakan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya, S. An-Nisa: 78; 
"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." 

Agama Islam memang menganjurkan untuk berobat apabila menderita sakit dan melakukan upaya-upaya jangan sampai terjangkit penyakit dengan menjaga kebersihan badan, tempat, dan lingkungan. Rasulullah Saw. juga banyak memberikan petunjuk dan arahan dalam rangka menjaga kesehatan dan menghindari dari terjangkit penyakit, seperti sabda beliau:
"Apabila kalian mendengar ada wabak penyakit di suatu negeri, maka kalian jangan masuk ke negeri itu. Sebaliknya, apabila kalian berada di suatu negeri di mana terjadi wabak penyakit, maka kalian jangan keluar dari negeri itu (maksudnya jangan sampai menularkan penyakit)." 

Beliau juga memerintahkan untuk menjauhi orang yang berpenyakit levra sebagaimana menjauhi singa. Bahkan, beliau juga melarang kita buang air di air yang digunakan orang banyak untuk mengambil air wudhu, mandi, atau lain-lainnya, juga buang air di jalan orang banyak dan di bawah naungan mereka. 

Namun demikian, kematian tetap akan mengejar kita, betapapun kesehatan yang kita usahakan berhasil. Namun demikian, kita memang tidak boleh menyerah kepada takdir tanpa ikhtiar. Seringkali kita melihat ada seseorang yang benar-benar kelihatan sehat bugar, tiba-tiba meninggal dunia. Jadi, kematian tetap akan menjumpai kita, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt. dalam S. Al-Jumu'ah: 8; 
"Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, sungguh akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". 

Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang kematian itu? Kematian merupakan 
sesuatu yang tidak perlu ditakuti, karena kematian itu merupakan jalan kembali kepada Tuhan yang menciptakan kita semua. Dahulu kita berada di sisi Allah kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini menjalani kehidupan sementara, kemudian kita mengakhirinya dengan kematian, yang sebenarnya kita kembali ke sisi Allah lagi. Dengan kata lain, kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa agar kembali kepada-Nya. Karena itu, kita sering mengatakan kepada orang yang meninggal dunia itu "berpulang ke rahmatullah" atau kita mengucapkan Innalillahi wainna ilaihi raji'un, yang artinya "sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali".

Pada dasarnya setiap manusia itu mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan. Kematian yang pertama ialah sebelum kita dihidupkan di muka bumi ini dan kematian kedua waktu kita mengakhiri kehidupan ini. Kehidupan pertama ialah waktu kita hidup di dunia ini yang bersifat sementara dan kehidupan kedua adalah waktu kita dibangkitkan di akhirat nanti. Allah Swt. menjelaskan hal itu dalam S. Al-Baqarah: 28; 
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan-Nya, kemudian dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan?" 

Dalam ayat tersebut digunakan kata fa artinya "lalu" yang menunjukkan langsung, 
amwatan fa ahyakum (tadinya mati lalu dihidupkan), dan digunakan kata tsumma artinya "kemudian" yang menunjukkan tidak langsung tetapi ada senggang waktu faahyakum tsumma yumitukum (dihidupkan kemudian dimatikan), yakni setelah beberapa tahun umurnya. Betapa indahnya gaya bahasa al-Qur'an yang sangat tinggi fashahah dan balaghahnya. 

Kematian merupakan awal atau pintu gerbang menuju kehidupan abadi sesuai dengan 
ayat di atas. Oleh karena itu, dalam al-Qur'an disebutkan bahwa sesungguhnya kematian itu sebenarnya kehidupan. Artinya, jika seseorang ingin hidup terus menerus, maka ia harus mengalami kematian terlebih dahulu. Tanpa kematian tidak akan ada kehidupan abadi. Atau dalam istilah al-Qur'an, orang yang mati disebut "Kembali kepada Sang Pencipta". 

Dalam perspektif al-Qur'an, hidup dan mati merupakan ajang persaingan amal di 
antara manusia. Dalam hal ini dikhususkan kepada manusia, karena manusialah yang diberi beban untuk menjalankan segala aturan yang telah ditetapkan kepadanya. Dengan daya nalarnya manusia dapat memilah dan memisahkan antara yang baik dan yang buruk atau yang benar dan yang salah. Dengan begitu, Allah dapat mengevaluasi yang terbaik amalnya di kalangan manusia, sebagaimana ditegaskan Allah dalam S. Al-Mulk: 2; 
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu 
yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." 


Sementara itu, Rasulullah Saw. menggambarkan kehidupan dunia ini laksana 
ladang, addunya mazra'atul akhirah, ladang untuk menanam tanaman berdasarkan timbangan nalar manusia tadi. Jika di dunia ini kita menanam mangga, umpamanya, maka di akhirat nanti kita akan mendapatkan buah mangga. Sebaliknya, jika kita menanamkan kopi, maka akan tumbuh buah kopi juga. Apabila seseorang menanam kebaikan, maka akan memperoleh balasan kebaikan pula, yakni surga. Sebaliknya, apabila menanam kejahatan, maka buahnya juga kejahatan, yakni neraka. Mengingat penting persolan kematian yang berkaitan dengan akhirat, maka al-Qur'an banyak menyebutkan pesan-pesan tentang akhir segala sesuatu. 

Surat-surat Makiyah umumnya mengandung pesan-pesan ini. Hal ini dimaksudkan 
agar manusia sebelum mengamalkan ajaran agama, terlebih dahulu mempunyai motivasi untuk melakukannya, karena setiap apa yang dilakukan itu akan diberi balasan. Kemudian, keyakinan kepada hari akhirat menjadi bagian yang sangat esensial dalam beragama. Bahkan, dalam al-Qur'an pernyataan tentang keimanan kepada Allah senantiasa digandengkan dengan hari akhirat. Umpamanya, termaktub dalam S. Al-Baqarah: 62; 
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian dan beramal shaleh maka mereka akan memperoleh pahala."

src : http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg03019.html

Sunday, January 3, 2016

Memikirkan Rasulullah Yang Selalu Tidak Makan...

Oleh : Dinsman

Kira-kira lima tahun lalu saya bersama Nasir Jani membuat sebuah
dokumentari video mengenai "Puasa Ramadan di Malaysia". Hari ini saya
tiba-tiba teringat - bukan kepada VCD yang sudah siap itu, tetapi
kepada satu masalah besar waktu membuat penggambaran untuk mengumpul
bahan dokumentari itu.

Apa masalahnya? Masalahnya ialah kebanyakan bahan visual yang dapat
kami kumpulkan rupa-rupanya adalah mengenai peristiwa orang makan.
Sedangkan dokumentari itu mengenai orang Malaysia menahan diri tidak
makan di siang hari sepanjang bulan Ramadhan. Dia jadi terbalik. Songsang.

Tetapi memang pun banyak peristiwa makan. Betul, orang Islam dewasa
tidak makan di siang hari. Tetapi menjelang petang terdapat satu
kesibukan orang hendak membeli makanan, yang luar biasa sibuknya, di
mana-mana, di seluruh negara. Pasar atau bazar Ramadan tiba-tiba
muncul di sana sini. Hal yang tidak pernah terjadi di luar bulan
Ramadan. Ia suatu pesta makanan yang paling besar di dunia.

Mengapa ia terjadi songsang begitu? Tentulah bukan begitu yang
diajarkan Nabi.

Itulah persoalan saya lima tahun lalu, dan masih menjadi persoalan
hingga kini. Bahkan ia berkembang lagi, apabila fikiran saya
tersangkut pada cerita-cerita Nabi Muhammad s.a.w. yang dikisahkan
selalu mengalami lapar, perut kosong kerana tidak makan, hingga ada
waktunya terpaksa perutnya diikat dengan batu.

Sukar hendak saya bayangkan bagaimana perut kosong yang perlu dibantu
supaya tidak terasa terlalu pedih kelaparan, dengan mengikatkan
ketul-ketul batu pada perut itu. Tak boleh. Saya gagal
merasionalkannya. Tidakkah perbuatan itu akan menimbulkan rasa sakit
pula di perut itu kerana adanya batu-batu yang diikat padanya?

Saya kebetulan sedang membaca beberapa buah buku yang di dalamnya
terdapat cerita-cerita berkenaan. Misaalnya buku "Muhammad s.a.w.
Insan Teladan Sepanjang Zaman" hasil karya Tok Guru Dato' Nik Abdul
Aziz Nik Mat, yang baru diterbitkan oleh Anbakri Publika.

Antara lain digambarkan sewaktu membuat persiapan Perang al-Ahzab,
Rasulullah turut bersama-sama dengan para sahabat, memerah keringat
menggali parit untuk benteng pertahanan. "Baginda turut memunggah
tanah dan batu-batu yang berat, menyebabkan seluruh fizikal merasai
sakit, terasa pedih hingga ke pangkal hati."

"Untuk mengurangkan kepedihan akibat rasa lapar, Rasulullah s.a.w.
mengambil beberapa ketul batu, kemudian dibalut dengan kain dan
mengikat ketat pada perutnya. Baginda berbuat begitu selain untuk
mengurangkan rasa lapar, juga untuk mengelakkan daripada kecederaan
akibat bekerja berat dalam keadaan perut kosong." (ms 45)

Dan bayangkanlah. Walaupun terpaksa menahan lapar, Nabi dan para
sahabat bekerja menggali parit itu dalam keadaan gembira dan
bersemangat. Kata Nik Aziz, "Ketika menggali parit, para sahabat
bersajak dan bersyair untuk membangkitkan semangat juang. Rasulullah
s.a.w. juga turut bernasyid bersama-sama mereka." (ms 34)

Kemudian ketika membaca buku Meraih Ampunan Allah (terjemahan)
karangan Jamilah al-Mashri (2004, Jakarta), terdapat pula cerita yang
diriwayatkan Imam Ahmad dan Tabrani, bahawa pada suatu hari Fatimah
(r.a) memberikan sekeping roti kepada ayahnya Muhammad s.a.w. Nabi
mengambil dan berkata: "Ini adalah makanan pertama yang dimakan ayahmu
sejak tiga hari yang lalu."

Bayangkan Rasulullah tiga hari tak makan! Kemudian ada pula riwayat
bahawa Abu Hurairah berkata, "Aku menemui Nabi s.a.w. ketika baginda
sedang solat sambil duduk, lalu aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, aku
melihatmu solat dalam keadaan duduk. Apa yang menimpamu?' Baginda
menjawab: 'Lapar, wahai Abu Hurairah'." (ms 230)

Dan ada beberapa peristiwa lagi dari sirah Rasulullah, yang melekat
dalam fikiran saya, menyebabkan saya berfikir - alangkah berbezanya,
dan jauhnya perbezaan antara corak hidup kita hari ini dengan corak
hidup Rasulullah dan para sahabat di zaman itu.

Tentulah itu bukan cerita kedaifan. Nabi Muhammad mempunyai segala
peluang untuk menjadi orang terkaya di zaman itu, sekiranya dia
memilih untuk menjadi kaya. Dia sendiri sejak muda telah terkenal
dengan bakat berniaganya, hingga tokoh korporat zaman itu, Khadijah,
mengamanahkan perniagaan kepadanya.

Para sahabat seperti Uthman bin Affan dan Abdul Rahman bin Auf adalah
orang-orang kaya yang banyak harta, dan sentiasa mahu menyumbang.
Kemudian hasil rampasan perang pun, mengikut Jamilah al-Mashri, boleh
memberikan kekayaan kepada Nabi sekiranya baginda mahu mengambil
bahagiannya.

Katanya, "Seandainya Rasul s.a.w. mau menegumpulkan harta, nescaya
baginda menjadi manusia terkaya. Seperlima harta rampasan dari Perang
Hunain saja sudah mencapai 8,000 ekor kambing, 4,800 unta, 8,000 auns
perak serta 1,200 tawanan." (ms 138)

Mengisahkan seorang sahabat yang juga mengalami lapar, Nik Aziz di
dalam bukunya mencatatkan: "Abu Hurairah r.a, berkata: Bahawa pada
suatu ketika aku rebah ke tanah kerana terlalu lapar. Orang yang
melihat aku tergeletak di tanah mengatakan aku terkena penyakit sawan.
Sebenarnya aku tidak terkena penyakit sawan, tetapi aku rebah kerana
terlalu lapar.

Tiba-tiba ada sahabat memberitahu bahawa Rasulullah s.a.w. menyuruh
aku pergi ke rumahnya. Menerima jemputan itu tiba-tiba tubuh aku
menjadi segar, kerana lazimnya jika Rasulullah saw menjemput kami ke
rumahnya bererti ada makanan yang hendak dihidangkan kepada kami." (ms 35)

Membaca sirah Rasulullah dan para sahabat berulangkali dari pelbagai
sudut, saya bukan saja merasai perbezaan corak hidup mereka yang
ketara itu, tetapi juga merasai beberapa pertanyaan yang mendesak,
memerlukan pemahaman yang lebih rasional dan wajar.

Misalnya, dua tahun lalu saya pernah mengutip idea dan pemikiran Abul
Hasan Ali An-Nadwi dari bukunya Pertentangan Iman dengan Materialisma,
untuk dialog drama pentas saya yang berjudul "Tamu Dari Medan Perang".

Dalam drama tersebut watak Mufti membacakan sebuah hadis, begini:
"Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, daripada Umar
ibnul Khattab, katanya: Pada suatu hari saya masuk menemui Rasulullah
s.a.w. di rumahnya, baginda sedang berbaring di atas pasir. Baginda
tidak menggunakan sebarang alas bagi mengalaskan antara tubuhnya
dengan pasir. Kesan-kesan pasir kelihatan jelas di bahagian rusuknya.

"Begitulah Rasulullah s.a.w. Bukan baginda tidak mampu. Kalau baginda
mahu, bukan baginda tidak mampu untuk mengadakan lantai yang beralas
atau membina rumah yang besar dan mewah sekalipun. Baginda mampu
mengadakan semua itu, kalaulah itu yang baginda pilih. Tetapi baginda
tidak memilih yang itu."

Meneruskan pemikiran itu di hari-hari Ramadan al-mubarak, saya jadi
bertambah yakin bahawa corak hidup kita sudah jauh terpesong dari
landasan yang ditunjukkan Nabi. Jauh betul terpesongnya. Dan
rupa-rupanya inilah yang selalu ditekankan Tok Guru Nik Aziz dalam
kuliah-kuliah dan juga dalam kepimpinannya.

Tepat sekalilah beliau bertanya Ketua Audit Negara yang menegur
jabatan dan agensi kerajaan Kelantan "tidak menunjukkan kemajuan
ketara". Kata Nik Aziz: "Saya nak tahu apa definisi maju tu dulu.
Ukuran maju ke tak maju ni dikira dari mana." Soalan itu sebenarnya
untuk difikirkan oleh semua orang hari ini.

Sumber:
http://www.harakahd aily.net/ index.php? option=com_ content&task= view&id=017003& Itemid=60

src : abumeow at yahoogroups.com

Thursday, August 20, 2015

RAHSIA DI SEBALIK DEMAM

Demam itu ialah penyakit yang menyebabkan suhu tubuh melebihi suhu biasa. Jika demikian tiada siapa pun yang tidak pernah merasa demam, namun apakah hakikat penyakit demam itu sebenarnya dari sudut agama dan apakah pula hikmahnya?

Hakikat Demam.
Sebuah hadith yang diriwayatkan daripada Ibnu Omar Radhiallahu anhuma mengatakan yang maksudnya :
"Demam berasal dari kepanasan api neraka yang mendidih, maka padamkanlah ia dengan air". (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Dalam hadith yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu anha dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam, Baginda bersabda yang maksudnya :
"Demam adalah dari panas api neraka yang mendidih, dari itu dinginkanlah ia dengan air".
(Hadith riwayat Muslim)

Dalam kitab Umdah Al-Qari menyebutkan bahawa panas yang lahir dari tubuh orang yang demam itu adalah secebis daripada kepanasan api neraka. Allah telah menzahirkannya pada diri orang yang demam itu dengan sebab-sebab yang tertentu agar dia mengambil iktibar daripadanya, sebagaimana Allah telah menzahirkan berbagai jenis
kegembiraan dan kenikmatan yang berasal dari nikmat-nikmat syurga untuk menjadi pengajaran dan petunjuk baginya.
Sebahagian ulama berpendapat bahawa apa yang dimaksudkan dengan kepanasan api neraka di sini ialah satu perumpamaan antara panas orang yang demam dengan panas api neraka sebagai peringatan kepada diri manusia betapa panasnya api neraka. Namun pendapat ini disanggah oleh Ath-Thayyibi dengan mengatakan bahawa ia tidak sesuai untuk dijadikan sebagai perumpamaan, bahkan demam itu memang lahir atau berasal dari kepanasan api neraka sedari mula atau sebahagian dari hembusan api neraka.
Adapun maksud "mendinginkannya dengan air" itu menurut Ibnu Al-Ambari ialah bersedekah dengan air, kerana ada riwayat mengatakan bahawa sedekah yang paling afdhal itu ialah memberi minum air.

Mengeluh Dan Mengadu Kerana Demam.

Memang tidak dinafikan bahawa ada setengah orang mengeluh kerana demam atau mengerang kerana kesakitan. Apakah perbuatan ini diharuskan dalam agama?

Sebenarnya kita tidak dilarang untuk mengadu atau mengeluhkan kesakitan kita kepada Allah Subhanahu Wa Taala. Apa yang dilarang ialah kita mengeluh dan mengadukannya kepada orang lain sesama manusia. Nabi Shallallahu alaihi wasallam sendiri, para sahabat
dan pengikut-pengikut mereka, pernah mengadukan kesakitan mereka.
Diriwayatkan bahawa Al-Hasan Al-Bashri sewaktu sahabat-sahabatnya datang ke rumahnya, mereka menemuinya sedang mengadukan sakit giginya kepada Allah Subhanahu Wa Taala dengan berkata yang ertinya :
Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku ditimpa penyakit, sedang Engkaulah sahaja yang lebih mengasihani daripada (yang lain) yang mengasihani.
Adapun yang dimaksudkan dengan larangan mengadukan kesakitan kepada sesama manusia itu ialah mengadukannya dengan cara merasa jemu dan benci dengan penyakit itu. Akan tetapi jika seseorang itu memberitahu atau menceritakan penyakitnya kepada
kawan-kawannya supaya mereka dapat mendoakannya sembuh, maka dalam hal ini tidaklah menjadi satu kesalahan. Begitu juga jika seseorang itu mengeluh kerana sakit, tetapi keluhannya itu boleh mendatangkan kerehatan kepadanya atau boleh meredakan
kesakitannya, maka tidaklah juga menjadi apa-apa.
Al-Quran ada menceritakan tentang kesabaran Nabi Ayyub Alaihissalam dalam menempuhi segala penderitaan. Di antara penderitaan yang Nabi Ayyub alami ialah berpenyakit gatal. Penyakit gatal ini sangat dahsyat. Apabila digaru dengan kuku, maka kuku baginda akan tanggal, tetapi masih juga bertambah gatal. Kemudian baginda terpaksa menggarunya dengan barang yang kesat. Tidak cukup dengan itu, baginda menggaru badannya dengan pecahan periuk dan akhirnya dengan batu. Namun masih juga merasa gatal. Sehingga dengan tidak disedarinya dagingnya telah luka dan koyak. Maka keluar dari tubuh baginda yang luka itu, nanah yang baunya sangat busuk. Orang ramai yang tinggal di sekitarnya tidak tahan dengan bau busuk itu, lalu mereka keluarkan Nabi Ayyub dari negeri tempat tinggalnya ke tempat terpencil. Semua orang memencilkannya kecuali isterinya yang merawatnya.

Nabi Ayyub tidak pernah mengeluh dengan apa yang menimpanya, bahkan dia bersifat sabar dan tahan menderita. Apa yang dilakukannya hanyalah bermohon kepada Allah agar mengasihaninya. Cubalah kita perhatikan permohonan Nabi Ayyub yang disebutkan di dalam Al-Quran :

Tafsirnya : "Dan Nabi Ayyub, ketika dia berdoa merayu Tuhannya dengan berkata: Sesungguhnya aku disentuh (ditimpa) penyakit, sedang Engkaulah saja yang lebih mengasihani daripada segala (yang lain) yang mengasihani" .
(Surah Al-Anbiya¡¦: 83)

Jika kita perhatikan kalimat-kalimat yang disebut oleh Nabi Ayyub Alaihissalam dalam ayat ini, alangkah halusnya budi bahasa baginda dalam rayuannya kepada Allah Subhanahu Wa Taala. Baginda menyebut "aku disentuh" dan tidak menyebut perkataan "aku ditimpa". Di sini menggambarkan bahawa celaka itu sendiri yang datang menyentuh dirinya. Nabi Ayyub tidak menyebut juga "atas kehendakMu", kerana kesopanannya yang sangat tinggi terhadap Allah Subhanahu Wa Taala. Selepas itu, rayuan baginda disudahi dengan kata-kata yang halus juga iaitu: "Sedang Engkaulah sahaja yang lebih mengasihani daripada segala yang mengasihani" .

Pada suku kata pertama, Nabi Ayyub mengadukan perasaannya yang dapat menimbulkan rasa kasihan dan pada suku kata kedua disebutkannya sifat Allah yang lebih pengasih daripada sesiapa jua pun yang pengasih. Hanya inilah permohonan Nabi Ayyub kepada
Allah. Dia tidak merungut dan mengeluh, apatah lagi menyesali apa yang telah berlaku. Dia cuma memohon belas kasihan daripada Allah Subhanahu Wa Taala.

Inilah satu kisah yang patut kita ambil iktibar, pengajaran dan contoh tauladan daripadanya. Walaupun Nabi Ayyub telah ditimpa penyakit, harta bendanya punah-ranah, anak-anaknya ditimpa malang dan mati semuanya, tetapi berkat sabarnya dan imannya, Allah Subhanahu Wa Taala telah mengabulkan doa dan rayuannya, lalu dia pun sembuh seperti sediakala dan berkembanglah keturunannya serta dikurniakan harta benda yang melimpah ruah.
Mencaci-maki Demam.
Selaku seorang muslim yang beriman, sepatutnya memiliki sifat sabar dan tidak mengeluh apabila ditimpa demam. Orang yang tidak mempunyai sifat sabar semasa ditimpa demam, mungkin tidak akan dapat mengawal dirinya dari mencaci maki penyakit ini, sedangkan kita dilarang berbuat demikian oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Ini bersandarkan kepada sebuah hadith yang diriwayatkan daripada Jabir Radhiallahu anhu yang maksudnya :

"Bahawasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah berkunjung ke rumah Ummu Saib atau Ummu Musayyib, lalu Baginda bersabda:
"Apa halnya engkau wahai Ummu Saib atau Ummu Musayyib menggigil?
Dia menjawab: "Demam, semoga Allah tidak memberikan berkat kepadanya".

Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Jangan engkau memaki penyakit demam, kerana dia menghilangkan kesalahan Bani Adam (manusia) sebagaimana landasan (tukang besi) menghilangkan kotoran (karat) besi".
(Hadith Riwayat Muslim)

Begitulah, segala apa jua yang datang daripada Allah, sama ada berupa rahmat, hendaklah kita syukuri, atau berupa musibah, maka hendaklah kita sabar menempuhinya.

Demam Penebus Dosa.

Sebenarnya larangan mencaci maki demam itu mempunyai rahsia atau hikmat tertentu yang wajar kita ketahui dan ingati.

Begitu juga hadith yang diriwayatkan oleh Muslim daripada Jabir Radhiallahu anhu yang disebutkan sebelum ini, mempunyai maksud yang sama. Jelasnya, kedua-dua hadith ini menerangkan bahawa demam yang menimpa seseorang itu boleh menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.

Jadi, ditimpa demam itu adalah sesuatu yang menguntungkan, kerana ia menghapuskan dosa, natijah yang lain, ia akan memantapkan keimanan.

"Ya Allah, selamatkanlah umat Islam yg sedang sengsara di Lubnan, Palestin, Afghanistan, Iraq, Chechnya serta diseluruh pelosok dunia akibat dari angkara mungkar dan kekejaman musuh-musuh Mu. Peliharakanlah mereka, lindungilah mereka, kasihanilah mereka dan berikanlah rahmatMu ke atas mereka.

Amin, ya Rabbal A'lamin."

 Nukilan                : Junhairi bin Abd Jalil

      : http://4ayesha.blogspot.com/2008/08/rahsia-di-sebalik-demam.html

Thursday, August 13, 2015

HIDAYAH PETUNJUK ALLAH

Allah Maha Berkuasa untuk mengurniakan petunjuk dan hidayah-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya. Hanya dengan petunjuk dan hidayah Allah sahajalah yang dapat mengubah manusia dan kehidupannya dari kekufuran kepada keimanan, dari kemaksiatan kepada ketakwaan, dari kezaliman kepada keadilan, dari kegelapan kepada cahaya kebenaran dan dari kegelisahan kepada ketenangan jiwa.

Sehubungan itu, Allah berfirman maksudnya: Sesiapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah nescaya dilapangkan dadanya untuk menerima Islam dan sesiapa yang dikehendaki sesat nescaya dijadikan dadanya sempit dan sesak seolah-seolah naik ke langit. Demikianlah Allah menimpakan kehinaan kepada orang yang tidak beriman.
(Surah al-An’am, ayat 125)

Jelas di sini bahawa Allah sahaja yang berkuasa untuk mengurniakan hidayah petunjuk-Nya kepada mana-mana manusia yang dikehendaki-Nya supaya beriman kepada-Nya. Orang yang mendapat hidayah Ilahi tersebut akan segera merasa lega dan lapang dadanya. Sebaliknya orang yang tertutup pintu hatinya dari menerima hidayah Allah itu akan merasa cemas dan buntu sebagai balasan di atas penderhakaannya kepada Allah.

Hidayah itu ialah petunjuk yang dikurniakan Allah kepada manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Berdasarkan definisi di atas, dapatlah disimpulkan bahawa hidayah mempunyai pelbagai dimensi tafsiran, di antaranya hidayah Islam, hidayah al-Quran, hidayah Nabi dan para sahabatnya, hidayah kebenaran, hidayah jalan yang lurus dan sebagainya. Biar apa pun tafsiran dari sudut klasifikasi hidayah, namun pengertiannya yang beraneka itu tetap membawa maksud yang sama iaitu hidayah petunjuk ke arah kesejahteraan dan kebahagiaan abadi.

Islam menganjurkan umatnya agar sentiasa memohon hidayah petunjuk daripada Allah ke arah jalan yang benar. Lebih-lebih lagi perjalanan hidup yang penuh berliku semestinya ditempuhi oleh setiap insan menuntut sedikit sebanyak ketabahan, kesabaran dan pertolongan Ilahi agar dia berjaya dalam hidupnya. Oleh sebab itulah, Islam mensyariatkan amalan berdoa dan memohon petunjuk daripada Allah kepada setiap Muslim yang beriman kepada-Nya.

Perlu diinsafi bahawa hidayah petunjuk yang dianugerahkan Allah kepada seseorang manusia sebenarnya tidak boleh diukur berdasarkan kepada keadaan lahiriah semata-mata. Sebaliknya, ia amat bergantung kepada keimanan dan ketakwaan yang bertapak kukuh dalam jiwa sanubari seseorang manusia. Dalam erti kata lain, Allah hanya mengurniakan hidayah-Nya kepada hamba-hamba yang benar-benar beriman dan bertakwa sahaja. Firman Allah yang bermaksud: Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah datang kepada kamu al-Quran yang menjadi nasihat pengajaran dari Tuhan kamu, dan yang menjadi penawar bagi penyakit-penyakit batin yang ada di dalam dada kamu; dan juga menjadi hidayah petunjuk untuk keselamatan serta membawa rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(Surah Yunus, ayat 57)

Selanjutnya, hidayah Allah tidak ada kaitan dengan hubungan pertalian darah atau kekeluargaan atau kaum kerabat. Dengan maksud lain, ada orang yang mendapat hidayah petunjuk dari Allah dan hidup bahagia serta taat kepada segala titah dan perintah Ilahi, akan tetapi anaknya adalah seorang yang amat derhaka kepada Allah dengan melakukan segala kemungkaran dan maksiat yang terlarang sebagaimana kisah yang berlaku kepada Nabi Nuh a.s. dan anaknya. Begitu juga Rasulullah sendiri dengan bapa saudaranya Abu Lahab.

Sebaliknya ada juga orang fasik yang sentiasa bergelumang dengan dosa tetapi anaknya pula adalah seorang yang soleh dan patuh kepada ajaran Islam. Ini berlaku kepada Nabi Ibrahim dengan ayahnya yang juga seorang pengukir patung berhala.

Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyangka bahawa orang yang selalu melakukan kejahatan itu susah untuk menerima kebenaran dan kesedaran serta tidak akan mendapat hidayah daripada Allah kerana hanya Allah sahaja yang berkuasa memberikan hidayah-Nya kepada sesiapa sahaja yang dikehendaki-Nya.

Dari sini, dapat disimpulkan bahawa hidayah petunjuk adalah di bawah bidang kuasa Allah sahaja sehingga para nabi dan rasul sekalipun tidak mampu untuk memberi hidayah kepada sesiapa yang dikehendakinya. Ini kerana Allah menegaskan bahawa para nabi dan rasul diutuskan untuk menyampaikan berita gembira dan peringatan serta menyeru manusia ke jalan yang benar dengan izin-Nya. Tentang mereka sama ada kelak akan menjadi orang yang memperolehi hidayah petunjuk atau tidak, urusan tersebut terpulang kepada Allah semata-mata. Bagi para nabi dan rasul, tugasnya hanyalah menyampaikan sahaja kerana tidak ada siapa yang dapat memberi petunjuk melainkan Allah sahaja.

Sehubungan itu Allah berfirman yang bermaksud: Tidaklah kamu diwajibkan (wahai Muhammad) menjadikan mereka (yang kafir) mendapat petunjuk, (kerana kewajipanmu hanya menyampaikan petunjuk) akan tetapi Allah jualah yang memberi petunjuk (dengan memberi taufik) kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya). Dan apa jua harta halal yang kamu belanjakan (pada jalan Allah) maka (faedahnya dan pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri. Dan kamu pula tidaklah mendermakan sesuatu melainkan kerana menuntut keredaan Allah. Dan apa jua yang kamu dermakan dari harta yang halal akan disempurnakan (balasan pahalanya) kepada kamu, dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan. 
(Surah al-Baqarah, ayat 272)

Ibnu Kathir dalam kitab tafsirnya Tafsir al-Quran al-Azim ada menyebut sebab turunnya ayat suci tersebut ialah terdapat beberapa orang Islam yang bersedekah kepada fakir miskin perduduk Madinah, kemudian setelah ramai bilangan orang yang masuk Islam, maka Rasulullah telah menegah daripada memberi sedekah kepada orang-orang musyrikin. Tujuannya ialah untuk menarik mereka supaya menganut Islam kerana Rasulullah sangat mengambil berat akan hal ehwal mereka. Lalu turunlah firman Allah tersebut yang memerintahkan baginda agar terus memberikan sedekah kepada mereka.

Biarpun hidayah Allah itu menjadi milik mutlak Allah, namun umat Islam dituntut untuk menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang bukan Islam kepada ajaran Islam dan beriman kepada Allah. Untuk itu, Islam telah menggariskan tiga kaedah berdakwah yang berkesan sebagaimana termaktub dalam firman Allah yang bermaksud: Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk. 
(Surah al-Nahl, ayat 125)

Ayat suci di atas menegaskan bahawa dakwah yang baik dan berkesan seperti yang dianjurkan oleh Islam hendaklah berpaksikan kepada tiga kaedah berikut iaitu:-
  • · Berdakwah secara hikmah atau bijaksana
  • · Memberi pengajaran atau contoh teladan yang baik
  • · Bertukar-tukar fikiran atau berdialog dengan cara yang lebih baik .

Oleh itu, setiap Muslim sewajibnya mempergiatkan usahanya untuk berdakwah dan juga bersabar dalam menjalankan usaha-usaha dakwah Islamiah kepada bukan Islam agar ia mencapai matlamat yang disasarkan Islam iaitu keadilan Islam dan keharmonian hidup serta kecemerlangan dalam segala lapangan hidup . Hidayah dan petunjuk Allah akan sentiasa mengiringi setiap langkah dan jalan yang diterokai oleh orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya dalam rangka untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi Allah ini.

src           : http://blogs.udm.edu.my/drkuzaki/2008/05/12/hidayah-petunjuk-allah

    : http://4ayesha.blogspot.com/2008/08/hidayah-petunjuk-allah.html