Umat manusia hidup di dunia ini sangat terbatas dan tidak bertahan lama, bila dibandingkan dengan eksistensi alam semesta ini. Rata-rata kehidupan di dunia ini selama 63 tahun, sebagaimana usia Rasulullah Saw. Apabila ada orang yang dianugerahi usia lebih dari itu, maka itu merupakan bonus dari Allah Swt. Setiap manusia mesti mengalami akhir kehidupan itu, yang sering disebut dengan kematian. Hal ini dinyatakan secara tegas di dalam al-Quranul Karim pada S. Ali 'Imran: 185;
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan baru pada hari kiamatlah
disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam surga, maka sungguh ia beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan."
Kematian ini merupakan salah satu bahasan ilmu Eskatologi yang termasuk cabang Teologi. Menurut Eliade, Eskatalogi termasuk bagian dari agama dan filsafat yang menguraikan secara runtut semua persoalan dan pengetahuan tentang akhir zaman, seperti kematian, alam barzah, kehidupan surga dan neraka, hukuman bagi yang berdosa, pahala bagi yang berbuat baik, hari bangkit, pengadilan pada hari itu, dan sebagainya. Secara ringkas Barnhart menjelaskan "Eschatology is a doctrina of the last or final things, specially death, judgment, heaven and hell". Eskatologi ialah ajaran tentang akhir segala sesuatu, khususnya kematian, pembalasan, surga, dan neraka.
Kematian itu sesuatu yang mesti terjadi pada seseorang, walaupun ia berusaha menghindari kematian atau berusaha bersembunyi dan berlindung di tempat yang dikira aman. Seseorang tidak dapat lari dan menjauhi kematian. Hal ini secara tegas dikemukakan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya, S. An-Nisa: 78;
"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."
Agama Islam memang menganjurkan untuk berobat apabila menderita sakit dan melakukan upaya-upaya jangan sampai terjangkit penyakit dengan menjaga kebersihan badan, tempat, dan lingkungan. Rasulullah Saw. juga banyak memberikan petunjuk dan arahan dalam rangka menjaga kesehatan dan menghindari dari terjangkit penyakit, seperti sabda beliau:
"Apabila kalian mendengar ada wabak penyakit di suatu negeri, maka kalian jangan masuk ke negeri itu. Sebaliknya, apabila kalian berada di suatu negeri di mana terjadi wabak penyakit, maka kalian jangan keluar dari negeri itu (maksudnya jangan sampai menularkan penyakit)."
Beliau juga memerintahkan untuk menjauhi orang yang berpenyakit levra sebagaimana menjauhi singa. Bahkan, beliau juga melarang kita buang air di air yang digunakan orang banyak untuk mengambil air wudhu, mandi, atau lain-lainnya, juga buang air di jalan orang banyak dan di bawah naungan mereka.
Namun demikian, kematian tetap akan mengejar kita, betapapun kesehatan yang kita usahakan berhasil. Namun demikian, kita memang tidak boleh menyerah kepada takdir tanpa ikhtiar. Seringkali kita melihat ada seseorang yang benar-benar kelihatan sehat bugar, tiba-tiba meninggal dunia. Jadi, kematian tetap akan menjumpai kita, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt. dalam S. Al-Jumu'ah: 8;
"Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, sungguh akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".
Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang kematian itu? Kematian merupakan
sesuatu yang tidak perlu ditakuti, karena kematian itu merupakan jalan kembali kepada Tuhan yang menciptakan kita semua. Dahulu kita berada di sisi Allah kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini menjalani kehidupan sementara, kemudian kita mengakhirinya dengan kematian, yang sebenarnya kita kembali ke sisi Allah lagi. Dengan kata lain, kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa agar kembali kepada-Nya. Karena itu, kita sering mengatakan kepada orang yang meninggal dunia itu "berpulang ke rahmatullah" atau kita mengucapkan Innalillahi wainna ilaihi raji'un, yang artinya "sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali".
Pada dasarnya setiap manusia itu mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan. Kematian yang pertama ialah sebelum kita dihidupkan di muka bumi ini dan kematian kedua waktu kita mengakhiri kehidupan ini. Kehidupan pertama ialah waktu kita hidup di dunia ini yang bersifat sementara dan kehidupan kedua adalah waktu kita dibangkitkan di akhirat nanti. Allah Swt. menjelaskan hal itu dalam S. Al-Baqarah: 28;
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan-Nya, kemudian dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan?"
Dalam ayat tersebut digunakan kata fa artinya "lalu" yang menunjukkan langsung,
amwatan fa ahyakum (tadinya mati lalu dihidupkan), dan digunakan kata tsumma artinya "kemudian" yang menunjukkan tidak langsung tetapi ada senggang waktu faahyakum tsumma yumitukum (dihidupkan kemudian dimatikan), yakni setelah beberapa tahun umurnya. Betapa indahnya gaya bahasa al-Qur'an yang sangat tinggi fashahah dan balaghahnya.
Kematian merupakan awal atau pintu gerbang menuju kehidupan abadi sesuai dengan
ayat di atas. Oleh karena itu, dalam al-Qur'an disebutkan bahwa sesungguhnya kematian itu sebenarnya kehidupan. Artinya, jika seseorang ingin hidup terus menerus, maka ia harus mengalami kematian terlebih dahulu. Tanpa kematian tidak akan ada kehidupan abadi. Atau dalam istilah al-Qur'an, orang yang mati disebut "Kembali kepada Sang Pencipta".
Dalam perspektif al-Qur'an, hidup dan mati merupakan ajang persaingan amal di
antara manusia. Dalam hal ini dikhususkan kepada manusia, karena manusialah yang diberi beban untuk menjalankan segala aturan yang telah ditetapkan kepadanya. Dengan daya nalarnya manusia dapat memilah dan memisahkan antara yang baik dan yang buruk atau yang benar dan yang salah. Dengan begitu, Allah dapat mengevaluasi yang terbaik amalnya di kalangan manusia, sebagaimana ditegaskan Allah dalam S. Al-Mulk: 2;
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu
yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."
Sementara itu, Rasulullah Saw. menggambarkan kehidupan dunia ini laksana
ladang, addunya mazra'atul akhirah, ladang untuk menanam tanaman berdasarkan timbangan nalar manusia tadi. Jika di dunia ini kita menanam mangga, umpamanya, maka di akhirat nanti kita akan mendapatkan buah mangga. Sebaliknya, jika kita menanamkan kopi, maka akan tumbuh buah kopi juga. Apabila seseorang menanam kebaikan, maka akan memperoleh balasan kebaikan pula, yakni surga. Sebaliknya, apabila menanam kejahatan, maka buahnya juga kejahatan, yakni neraka. Mengingat penting persolan kematian yang berkaitan dengan akhirat, maka al-Qur'an banyak menyebutkan pesan-pesan tentang akhir segala sesuatu.
Surat-surat Makiyah umumnya mengandung pesan-pesan ini. Hal ini dimaksudkan
agar manusia sebelum mengamalkan ajaran agama, terlebih dahulu mempunyai motivasi untuk melakukannya, karena setiap apa yang dilakukan itu akan diberi balasan. Kemudian, keyakinan kepada hari akhirat menjadi bagian yang sangat esensial dalam beragama. Bahkan, dalam al-Qur'an pernyataan tentang keimanan kepada Allah senantiasa digandengkan dengan hari akhirat. Umpamanya, termaktub dalam S. Al-Baqarah: 62;
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian dan beramal shaleh maka mereka akan memperoleh pahala."
src : http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg03019.html
AL-QURAN 1
Wednesday, January 6, 2016
Sunday, January 3, 2016
Memikirkan Rasulullah Yang Selalu Tidak Makan...
Oleh : Dinsman
Kira-kira lima tahun lalu saya bersama Nasir Jani membuat sebuah
dokumentari video mengenai "Puasa Ramadan di Malaysia". Hari ini saya
tiba-tiba teringat - bukan kepada VCD yang sudah siap itu, tetapi
kepada satu masalah besar waktu membuat penggambaran untuk mengumpul
bahan dokumentari itu.
Apa masalahnya? Masalahnya ialah kebanyakan bahan visual yang dapat
kami kumpulkan rupa-rupanya adalah mengenai peristiwa orang makan.
Sedangkan dokumentari itu mengenai orang Malaysia menahan diri tidak
makan di siang hari sepanjang bulan Ramadhan. Dia jadi terbalik. Songsang.
Tetapi memang pun banyak peristiwa makan. Betul, orang Islam dewasa
tidak makan di siang hari. Tetapi menjelang petang terdapat satu
kesibukan orang hendak membeli makanan, yang luar biasa sibuknya, di
mana-mana, di seluruh negara. Pasar atau bazar Ramadan tiba-tiba
muncul di sana sini. Hal yang tidak pernah terjadi di luar bulan
Ramadan. Ia suatu pesta makanan yang paling besar di dunia.
Mengapa ia terjadi songsang begitu? Tentulah bukan begitu yang
diajarkan Nabi.
Itulah persoalan saya lima tahun lalu, dan masih menjadi persoalan
hingga kini. Bahkan ia berkembang lagi, apabila fikiran saya
tersangkut pada cerita-cerita Nabi Muhammad s.a.w. yang dikisahkan
selalu mengalami lapar, perut kosong kerana tidak makan, hingga ada
waktunya terpaksa perutnya diikat dengan batu.
Sukar hendak saya bayangkan bagaimana perut kosong yang perlu dibantu
supaya tidak terasa terlalu pedih kelaparan, dengan mengikatkan
ketul-ketul batu pada perut itu. Tak boleh. Saya gagal
merasionalkannya. Tidakkah perbuatan itu akan menimbulkan rasa sakit
pula di perut itu kerana adanya batu-batu yang diikat padanya?
Saya kebetulan sedang membaca beberapa buah buku yang di dalamnya
terdapat cerita-cerita berkenaan. Misaalnya buku "Muhammad s.a.w.
Insan Teladan Sepanjang Zaman" hasil karya Tok Guru Dato' Nik Abdul
Aziz Nik Mat, yang baru diterbitkan oleh Anbakri Publika.
Antara lain digambarkan sewaktu membuat persiapan Perang al-Ahzab,
Rasulullah turut bersama-sama dengan para sahabat, memerah keringat
menggali parit untuk benteng pertahanan. "Baginda turut memunggah
tanah dan batu-batu yang berat, menyebabkan seluruh fizikal merasai
sakit, terasa pedih hingga ke pangkal hati."
"Untuk mengurangkan kepedihan akibat rasa lapar, Rasulullah s.a.w.
mengambil beberapa ketul batu, kemudian dibalut dengan kain dan
mengikat ketat pada perutnya. Baginda berbuat begitu selain untuk
mengurangkan rasa lapar, juga untuk mengelakkan daripada kecederaan
akibat bekerja berat dalam keadaan perut kosong." (ms 45)
Dan bayangkanlah. Walaupun terpaksa menahan lapar, Nabi dan para
sahabat bekerja menggali parit itu dalam keadaan gembira dan
bersemangat. Kata Nik Aziz, "Ketika menggali parit, para sahabat
bersajak dan bersyair untuk membangkitkan semangat juang. Rasulullah
s.a.w. juga turut bernasyid bersama-sama mereka." (ms 34)
Kemudian ketika membaca buku Meraih Ampunan Allah (terjemahan)
karangan Jamilah al-Mashri (2004, Jakarta), terdapat pula cerita yang
diriwayatkan Imam Ahmad dan Tabrani, bahawa pada suatu hari Fatimah
(r.a) memberikan sekeping roti kepada ayahnya Muhammad s.a.w. Nabi
mengambil dan berkata: "Ini adalah makanan pertama yang dimakan ayahmu
sejak tiga hari yang lalu."
Bayangkan Rasulullah tiga hari tak makan! Kemudian ada pula riwayat
bahawa Abu Hurairah berkata, "Aku menemui Nabi s.a.w. ketika baginda
sedang solat sambil duduk, lalu aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, aku
melihatmu solat dalam keadaan duduk. Apa yang menimpamu?' Baginda
menjawab: 'Lapar, wahai Abu Hurairah'." (ms 230)
Dan ada beberapa peristiwa lagi dari sirah Rasulullah, yang melekat
dalam fikiran saya, menyebabkan saya berfikir - alangkah berbezanya,
dan jauhnya perbezaan antara corak hidup kita hari ini dengan corak
hidup Rasulullah dan para sahabat di zaman itu.
Tentulah itu bukan cerita kedaifan. Nabi Muhammad mempunyai segala
peluang untuk menjadi orang terkaya di zaman itu, sekiranya dia
memilih untuk menjadi kaya. Dia sendiri sejak muda telah terkenal
dengan bakat berniaganya, hingga tokoh korporat zaman itu, Khadijah,
mengamanahkan perniagaan kepadanya.
Para sahabat seperti Uthman bin Affan dan Abdul Rahman bin Auf adalah
orang-orang kaya yang banyak harta, dan sentiasa mahu menyumbang.
Kemudian hasil rampasan perang pun, mengikut Jamilah al-Mashri, boleh
memberikan kekayaan kepada Nabi sekiranya baginda mahu mengambil
bahagiannya.
Katanya, "Seandainya Rasul s.a.w. mau menegumpulkan harta, nescaya
baginda menjadi manusia terkaya. Seperlima harta rampasan dari Perang
Hunain saja sudah mencapai 8,000 ekor kambing, 4,800 unta, 8,000 auns
perak serta 1,200 tawanan." (ms 138)
Mengisahkan seorang sahabat yang juga mengalami lapar, Nik Aziz di
dalam bukunya mencatatkan: "Abu Hurairah r.a, berkata: Bahawa pada
suatu ketika aku rebah ke tanah kerana terlalu lapar. Orang yang
melihat aku tergeletak di tanah mengatakan aku terkena penyakit sawan.
Sebenarnya aku tidak terkena penyakit sawan, tetapi aku rebah kerana
terlalu lapar.
Tiba-tiba ada sahabat memberitahu bahawa Rasulullah s.a.w. menyuruh
aku pergi ke rumahnya. Menerima jemputan itu tiba-tiba tubuh aku
menjadi segar, kerana lazimnya jika Rasulullah saw menjemput kami ke
rumahnya bererti ada makanan yang hendak dihidangkan kepada kami." (ms 35)
Membaca sirah Rasulullah dan para sahabat berulangkali dari pelbagai
sudut, saya bukan saja merasai perbezaan corak hidup mereka yang
ketara itu, tetapi juga merasai beberapa pertanyaan yang mendesak,
memerlukan pemahaman yang lebih rasional dan wajar.
Misalnya, dua tahun lalu saya pernah mengutip idea dan pemikiran Abul
Hasan Ali An-Nadwi dari bukunya Pertentangan Iman dengan Materialisma,
untuk dialog drama pentas saya yang berjudul "Tamu Dari Medan Perang".
Dalam drama tersebut watak Mufti membacakan sebuah hadis, begini:
"Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, daripada Umar
ibnul Khattab, katanya: Pada suatu hari saya masuk menemui Rasulullah
s.a.w. di rumahnya, baginda sedang berbaring di atas pasir. Baginda
tidak menggunakan sebarang alas bagi mengalaskan antara tubuhnya
dengan pasir. Kesan-kesan pasir kelihatan jelas di bahagian rusuknya.
"Begitulah Rasulullah s.a.w. Bukan baginda tidak mampu. Kalau baginda
mahu, bukan baginda tidak mampu untuk mengadakan lantai yang beralas
atau membina rumah yang besar dan mewah sekalipun. Baginda mampu
mengadakan semua itu, kalaulah itu yang baginda pilih. Tetapi baginda
tidak memilih yang itu."
Meneruskan pemikiran itu di hari-hari Ramadan al-mubarak, saya jadi
bertambah yakin bahawa corak hidup kita sudah jauh terpesong dari
landasan yang ditunjukkan Nabi. Jauh betul terpesongnya. Dan
rupa-rupanya inilah yang selalu ditekankan Tok Guru Nik Aziz dalam
kuliah-kuliah dan juga dalam kepimpinannya.
Tepat sekalilah beliau bertanya Ketua Audit Negara yang menegur
jabatan dan agensi kerajaan Kelantan "tidak menunjukkan kemajuan
ketara". Kata Nik Aziz: "Saya nak tahu apa definisi maju tu dulu.
Ukuran maju ke tak maju ni dikira dari mana." Soalan itu sebenarnya
untuk difikirkan oleh semua orang hari ini.
Sumber:
http://www.harakahd aily.net/ index.php? option=com_ content&task= view&id=017003& Itemid=60
src : abumeow at yahoogroups.com
Kira-kira lima tahun lalu saya bersama Nasir Jani membuat sebuah
dokumentari video mengenai "Puasa Ramadan di Malaysia". Hari ini saya
tiba-tiba teringat - bukan kepada VCD yang sudah siap itu, tetapi
kepada satu masalah besar waktu membuat penggambaran untuk mengumpul
bahan dokumentari itu.
Apa masalahnya? Masalahnya ialah kebanyakan bahan visual yang dapat
kami kumpulkan rupa-rupanya adalah mengenai peristiwa orang makan.
Sedangkan dokumentari itu mengenai orang Malaysia menahan diri tidak
makan di siang hari sepanjang bulan Ramadhan. Dia jadi terbalik. Songsang.
Tetapi memang pun banyak peristiwa makan. Betul, orang Islam dewasa
tidak makan di siang hari. Tetapi menjelang petang terdapat satu
kesibukan orang hendak membeli makanan, yang luar biasa sibuknya, di
mana-mana, di seluruh negara. Pasar atau bazar Ramadan tiba-tiba
muncul di sana sini. Hal yang tidak pernah terjadi di luar bulan
Ramadan. Ia suatu pesta makanan yang paling besar di dunia.
Mengapa ia terjadi songsang begitu? Tentulah bukan begitu yang
diajarkan Nabi.
Itulah persoalan saya lima tahun lalu, dan masih menjadi persoalan
hingga kini. Bahkan ia berkembang lagi, apabila fikiran saya
tersangkut pada cerita-cerita Nabi Muhammad s.a.w. yang dikisahkan
selalu mengalami lapar, perut kosong kerana tidak makan, hingga ada
waktunya terpaksa perutnya diikat dengan batu.
Sukar hendak saya bayangkan bagaimana perut kosong yang perlu dibantu
supaya tidak terasa terlalu pedih kelaparan, dengan mengikatkan
ketul-ketul batu pada perut itu. Tak boleh. Saya gagal
merasionalkannya. Tidakkah perbuatan itu akan menimbulkan rasa sakit
pula di perut itu kerana adanya batu-batu yang diikat padanya?
Saya kebetulan sedang membaca beberapa buah buku yang di dalamnya
terdapat cerita-cerita berkenaan. Misaalnya buku "Muhammad s.a.w.
Insan Teladan Sepanjang Zaman" hasil karya Tok Guru Dato' Nik Abdul
Aziz Nik Mat, yang baru diterbitkan oleh Anbakri Publika.
Antara lain digambarkan sewaktu membuat persiapan Perang al-Ahzab,
Rasulullah turut bersama-sama dengan para sahabat, memerah keringat
menggali parit untuk benteng pertahanan. "Baginda turut memunggah
tanah dan batu-batu yang berat, menyebabkan seluruh fizikal merasai
sakit, terasa pedih hingga ke pangkal hati."
"Untuk mengurangkan kepedihan akibat rasa lapar, Rasulullah s.a.w.
mengambil beberapa ketul batu, kemudian dibalut dengan kain dan
mengikat ketat pada perutnya. Baginda berbuat begitu selain untuk
mengurangkan rasa lapar, juga untuk mengelakkan daripada kecederaan
akibat bekerja berat dalam keadaan perut kosong." (ms 45)
Dan bayangkanlah. Walaupun terpaksa menahan lapar, Nabi dan para
sahabat bekerja menggali parit itu dalam keadaan gembira dan
bersemangat. Kata Nik Aziz, "Ketika menggali parit, para sahabat
bersajak dan bersyair untuk membangkitkan semangat juang. Rasulullah
s.a.w. juga turut bernasyid bersama-sama mereka." (ms 34)
Kemudian ketika membaca buku Meraih Ampunan Allah (terjemahan)
karangan Jamilah al-Mashri (2004, Jakarta), terdapat pula cerita yang
diriwayatkan Imam Ahmad dan Tabrani, bahawa pada suatu hari Fatimah
(r.a) memberikan sekeping roti kepada ayahnya Muhammad s.a.w. Nabi
mengambil dan berkata: "Ini adalah makanan pertama yang dimakan ayahmu
sejak tiga hari yang lalu."
Bayangkan Rasulullah tiga hari tak makan! Kemudian ada pula riwayat
bahawa Abu Hurairah berkata, "Aku menemui Nabi s.a.w. ketika baginda
sedang solat sambil duduk, lalu aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, aku
melihatmu solat dalam keadaan duduk. Apa yang menimpamu?' Baginda
menjawab: 'Lapar, wahai Abu Hurairah'." (ms 230)
Dan ada beberapa peristiwa lagi dari sirah Rasulullah, yang melekat
dalam fikiran saya, menyebabkan saya berfikir - alangkah berbezanya,
dan jauhnya perbezaan antara corak hidup kita hari ini dengan corak
hidup Rasulullah dan para sahabat di zaman itu.
Tentulah itu bukan cerita kedaifan. Nabi Muhammad mempunyai segala
peluang untuk menjadi orang terkaya di zaman itu, sekiranya dia
memilih untuk menjadi kaya. Dia sendiri sejak muda telah terkenal
dengan bakat berniaganya, hingga tokoh korporat zaman itu, Khadijah,
mengamanahkan perniagaan kepadanya.
Para sahabat seperti Uthman bin Affan dan Abdul Rahman bin Auf adalah
orang-orang kaya yang banyak harta, dan sentiasa mahu menyumbang.
Kemudian hasil rampasan perang pun, mengikut Jamilah al-Mashri, boleh
memberikan kekayaan kepada Nabi sekiranya baginda mahu mengambil
bahagiannya.
Katanya, "Seandainya Rasul s.a.w. mau menegumpulkan harta, nescaya
baginda menjadi manusia terkaya. Seperlima harta rampasan dari Perang
Hunain saja sudah mencapai 8,000 ekor kambing, 4,800 unta, 8,000 auns
perak serta 1,200 tawanan." (ms 138)
Mengisahkan seorang sahabat yang juga mengalami lapar, Nik Aziz di
dalam bukunya mencatatkan: "Abu Hurairah r.a, berkata: Bahawa pada
suatu ketika aku rebah ke tanah kerana terlalu lapar. Orang yang
melihat aku tergeletak di tanah mengatakan aku terkena penyakit sawan.
Sebenarnya aku tidak terkena penyakit sawan, tetapi aku rebah kerana
terlalu lapar.
Tiba-tiba ada sahabat memberitahu bahawa Rasulullah s.a.w. menyuruh
aku pergi ke rumahnya. Menerima jemputan itu tiba-tiba tubuh aku
menjadi segar, kerana lazimnya jika Rasulullah saw menjemput kami ke
rumahnya bererti ada makanan yang hendak dihidangkan kepada kami." (ms 35)
Membaca sirah Rasulullah dan para sahabat berulangkali dari pelbagai
sudut, saya bukan saja merasai perbezaan corak hidup mereka yang
ketara itu, tetapi juga merasai beberapa pertanyaan yang mendesak,
memerlukan pemahaman yang lebih rasional dan wajar.
Misalnya, dua tahun lalu saya pernah mengutip idea dan pemikiran Abul
Hasan Ali An-Nadwi dari bukunya Pertentangan Iman dengan Materialisma,
untuk dialog drama pentas saya yang berjudul "Tamu Dari Medan Perang".
Dalam drama tersebut watak Mufti membacakan sebuah hadis, begini:
"Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, daripada Umar
ibnul Khattab, katanya: Pada suatu hari saya masuk menemui Rasulullah
s.a.w. di rumahnya, baginda sedang berbaring di atas pasir. Baginda
tidak menggunakan sebarang alas bagi mengalaskan antara tubuhnya
dengan pasir. Kesan-kesan pasir kelihatan jelas di bahagian rusuknya.
"Begitulah Rasulullah s.a.w. Bukan baginda tidak mampu. Kalau baginda
mahu, bukan baginda tidak mampu untuk mengadakan lantai yang beralas
atau membina rumah yang besar dan mewah sekalipun. Baginda mampu
mengadakan semua itu, kalaulah itu yang baginda pilih. Tetapi baginda
tidak memilih yang itu."
Meneruskan pemikiran itu di hari-hari Ramadan al-mubarak, saya jadi
bertambah yakin bahawa corak hidup kita sudah jauh terpesong dari
landasan yang ditunjukkan Nabi. Jauh betul terpesongnya. Dan
rupa-rupanya inilah yang selalu ditekankan Tok Guru Nik Aziz dalam
kuliah-kuliah dan juga dalam kepimpinannya.
Tepat sekalilah beliau bertanya Ketua Audit Negara yang menegur
jabatan dan agensi kerajaan Kelantan "tidak menunjukkan kemajuan
ketara". Kata Nik Aziz: "Saya nak tahu apa definisi maju tu dulu.
Ukuran maju ke tak maju ni dikira dari mana." Soalan itu sebenarnya
untuk difikirkan oleh semua orang hari ini.
Sumber:
http://www.harakahd aily.net/ index.php? option=com_ content&task= view&id=017003& Itemid=60
src : abumeow at yahoogroups.com
Thursday, August 20, 2015
RAHSIA DI SEBALIK DEMAM
Demam itu ialah penyakit yang menyebabkan suhu tubuh
melebihi suhu biasa. Jika demikian tiada siapa pun yang tidak pernah merasa
demam, namun apakah hakikat penyakit demam itu sebenarnya dari sudut agama dan
apakah pula hikmahnya?
Hakikat Demam.
Sebuah hadith yang diriwayatkan daripada Ibnu Omar
Radhiallahu anhuma mengatakan yang maksudnya :
"Demam berasal
dari kepanasan api neraka yang mendidih, maka padamkanlah ia dengan air".
(Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)
Dalam hadith yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu
anha dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam, Baginda bersabda yang maksudnya :
"Demam adalah dari panas api neraka
yang mendidih, dari itu dinginkanlah ia dengan air".
(Hadith
riwayat Muslim)
Dalam kitab Umdah Al-Qari menyebutkan bahawa panas yang
lahir dari tubuh orang yang demam itu adalah secebis daripada kepanasan api
neraka. Allah telah menzahirkannya pada diri orang yang demam itu dengan
sebab-sebab yang tertentu agar dia mengambil iktibar daripadanya, sebagaimana
Allah telah menzahirkan berbagai jenis
kegembiraan dan kenikmatan yang berasal dari nikmat-nikmat
syurga untuk menjadi pengajaran dan petunjuk baginya.
Sebahagian ulama berpendapat bahawa apa yang dimaksudkan
dengan kepanasan api neraka di sini ialah satu perumpamaan antara panas orang
yang demam dengan panas api neraka sebagai peringatan kepada diri manusia
betapa panasnya api neraka. Namun pendapat ini disanggah oleh Ath-Thayyibi
dengan mengatakan bahawa ia tidak sesuai untuk dijadikan sebagai perumpamaan,
bahkan demam itu memang lahir atau berasal dari kepanasan api neraka sedari
mula atau sebahagian dari hembusan api neraka.
Adapun maksud "mendinginkannya dengan air" itu
menurut Ibnu Al-Ambari ialah bersedekah dengan air, kerana ada riwayat
mengatakan bahawa sedekah yang paling afdhal itu ialah memberi minum air.
Mengeluh Dan Mengadu Kerana Demam.
Memang tidak dinafikan bahawa ada setengah orang mengeluh
kerana demam atau mengerang kerana kesakitan. Apakah perbuatan ini diharuskan
dalam agama?
Sebenarnya kita tidak dilarang untuk mengadu atau
mengeluhkan kesakitan kita kepada Allah Subhanahu Wa Taala. Apa yang dilarang
ialah kita mengeluh dan mengadukannya kepada orang lain sesama manusia. Nabi
Shallallahu alaihi wasallam sendiri, para sahabat
dan pengikut-pengikut mereka, pernah mengadukan kesakitan
mereka.
Diriwayatkan bahawa Al-Hasan Al-Bashri sewaktu
sahabat-sahabatnya datang ke rumahnya, mereka menemuinya sedang mengadukan
sakit giginya kepada Allah Subhanahu Wa Taala dengan berkata yang ertinya :
Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku ditimpa penyakit, sedang
Engkaulah sahaja yang lebih mengasihani daripada (yang lain) yang mengasihani.
Adapun yang dimaksudkan dengan larangan mengadukan kesakitan
kepada sesama manusia itu ialah mengadukannya dengan cara merasa jemu dan benci
dengan penyakit itu. Akan tetapi jika seseorang itu memberitahu atau menceritakan
penyakitnya kepada
kawan-kawannya supaya mereka dapat mendoakannya sembuh, maka
dalam hal ini tidaklah menjadi satu kesalahan. Begitu juga jika seseorang itu
mengeluh kerana sakit, tetapi keluhannya itu boleh mendatangkan kerehatan
kepadanya atau boleh meredakan
kesakitannya, maka tidaklah juga menjadi apa-apa.
Al-Quran ada menceritakan tentang kesabaran Nabi Ayyub
Alaihissalam dalam menempuhi segala penderitaan. Di antara penderitaan yang
Nabi Ayyub alami ialah berpenyakit gatal. Penyakit gatal ini sangat dahsyat.
Apabila digaru dengan kuku, maka kuku baginda akan tanggal, tetapi masih juga
bertambah gatal. Kemudian baginda terpaksa menggarunya dengan barang yang
kesat. Tidak cukup dengan itu, baginda menggaru badannya dengan pecahan periuk
dan akhirnya dengan batu. Namun masih juga merasa gatal. Sehingga dengan tidak
disedarinya dagingnya telah luka dan koyak. Maka keluar dari tubuh baginda yang
luka itu, nanah yang baunya sangat busuk. Orang ramai yang tinggal di
sekitarnya tidak tahan dengan bau busuk itu, lalu mereka keluarkan Nabi Ayyub
dari negeri tempat tinggalnya ke tempat terpencil. Semua orang memencilkannya
kecuali isterinya yang merawatnya.
Nabi Ayyub tidak pernah mengeluh dengan apa yang menimpanya,
bahkan dia bersifat sabar dan tahan menderita. Apa yang dilakukannya hanyalah
bermohon kepada Allah agar mengasihaninya. Cubalah kita perhatikan permohonan
Nabi Ayyub yang disebutkan di dalam Al-Quran :
Tafsirnya : "Dan Nabi Ayyub, ketika dia berdoa
merayu Tuhannya dengan berkata: Sesungguhnya aku disentuh (ditimpa) penyakit,
sedang Engkaulah saja yang lebih mengasihani daripada segala (yang lain) yang
mengasihani" .
(Surah
Al-Anbiya¡¦: 83)
Jika kita perhatikan kalimat-kalimat yang disebut oleh Nabi
Ayyub Alaihissalam dalam ayat ini, alangkah halusnya budi bahasa baginda dalam
rayuannya kepada Allah Subhanahu Wa Taala. Baginda menyebut "aku
disentuh" dan tidak menyebut perkataan "aku ditimpa". Di sini
menggambarkan bahawa celaka itu sendiri yang datang menyentuh dirinya. Nabi
Ayyub tidak menyebut juga "atas kehendakMu", kerana kesopanannya yang
sangat tinggi terhadap Allah Subhanahu Wa Taala. Selepas itu, rayuan baginda
disudahi dengan kata-kata yang halus juga iaitu: "Sedang Engkaulah sahaja
yang lebih mengasihani daripada segala yang mengasihani" .
Pada suku kata pertama, Nabi Ayyub mengadukan perasaannya
yang dapat menimbulkan rasa kasihan dan pada suku kata kedua disebutkannya
sifat Allah yang lebih pengasih daripada sesiapa jua pun yang pengasih. Hanya
inilah permohonan Nabi Ayyub kepada
Allah. Dia tidak merungut dan mengeluh, apatah lagi
menyesali apa yang telah berlaku. Dia cuma memohon belas kasihan daripada Allah
Subhanahu Wa Taala.
Inilah satu kisah yang patut kita ambil iktibar, pengajaran
dan contoh tauladan daripadanya. Walaupun Nabi Ayyub telah ditimpa penyakit,
harta bendanya punah-ranah, anak-anaknya ditimpa malang dan mati semuanya,
tetapi berkat sabarnya dan imannya, Allah Subhanahu Wa Taala telah mengabulkan
doa dan rayuannya, lalu dia pun sembuh seperti sediakala dan berkembanglah
keturunannya serta dikurniakan harta benda yang melimpah ruah.
Mencaci-maki Demam.
Selaku seorang muslim yang beriman, sepatutnya memiliki
sifat sabar dan tidak mengeluh apabila ditimpa demam. Orang yang tidak
mempunyai sifat sabar semasa ditimpa demam, mungkin tidak akan dapat mengawal
dirinya dari mencaci maki penyakit ini, sedangkan kita dilarang berbuat
demikian oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Ini bersandarkan kepada sebuah
hadith yang diriwayatkan daripada Jabir Radhiallahu anhu yang maksudnya :
"Bahawasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam
telah berkunjung ke rumah Ummu Saib atau Ummu Musayyib, lalu Baginda bersabda:
"Apa halnya engkau wahai Ummu Saib atau Ummu Musayyib
menggigil?
Dia menjawab: "Demam, semoga Allah tidak memberikan
berkat kepadanya".
Nabi
Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Jangan
engkau memaki penyakit demam, kerana dia menghilangkan kesalahan Bani Adam
(manusia) sebagaimana landasan (tukang besi) menghilangkan kotoran (karat)
besi".
(Hadith
Riwayat Muslim)
Begitulah, segala apa jua yang datang daripada Allah, sama
ada berupa rahmat, hendaklah kita syukuri, atau berupa musibah, maka hendaklah
kita sabar menempuhinya.
Demam Penebus Dosa.
Sebenarnya larangan mencaci maki demam itu mempunyai rahsia
atau hikmat tertentu yang wajar kita ketahui dan ingati.
Begitu juga hadith yang diriwayatkan oleh Muslim daripada
Jabir Radhiallahu anhu yang disebutkan sebelum ini, mempunyai maksud yang sama.
Jelasnya, kedua-dua hadith ini menerangkan bahawa demam yang menimpa seseorang
itu boleh menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.
Jadi, ditimpa demam itu adalah sesuatu yang menguntungkan,
kerana ia menghapuskan dosa, natijah yang lain, ia akan memantapkan keimanan.
"Ya Allah, selamatkanlah umat Islam yg sedang sengsara
di Lubnan, Palestin, Afghanistan, Iraq, Chechnya serta diseluruh pelosok dunia
akibat dari angkara mungkar dan kekejaman musuh-musuh Mu. Peliharakanlah
mereka, lindungilah mereka, kasihanilah mereka dan berikanlah rahmatMu ke atas
mereka.
Amin, ya Rabbal A'lamin."
Nukilan : Junhairi bin Abd Jalil
: http://4ayesha.blogspot.com/2008/08/rahsia-di-sebalik-demam.html
Thursday, August 13, 2015
HIDAYAH PETUNJUK ALLAH
Allah Maha
Berkuasa untuk mengurniakan petunjuk dan hidayah-Nya kepada sesiapa yang
dikehendaki-Nya. Hanya dengan petunjuk dan hidayah Allah sahajalah yang dapat
mengubah manusia dan kehidupannya dari kekufuran kepada keimanan, dari
kemaksiatan kepada ketakwaan, dari kezaliman kepada keadilan, dari kegelapan
kepada cahaya kebenaran dan dari kegelisahan kepada ketenangan jiwa.
Sehubungan itu, Allah berfirman maksudnya:
Sesiapa yang Allah kehendaki mendapat
hidayah nescaya dilapangkan dadanya untuk menerima Islam dan sesiapa yang
dikehendaki sesat nescaya dijadikan dadanya sempit dan sesak seolah-seolah naik
ke langit. Demikianlah Allah menimpakan kehinaan kepada orang yang tidak
beriman.
(Surah al-An’am, ayat 125)
Jelas di sini
bahawa Allah sahaja yang berkuasa untuk mengurniakan hidayah petunjuk-Nya
kepada mana-mana manusia yang dikehendaki-Nya supaya beriman kepada-Nya. Orang
yang mendapat hidayah Ilahi tersebut akan segera merasa lega dan lapang
dadanya. Sebaliknya orang yang tertutup pintu hatinya dari menerima hidayah
Allah itu akan merasa cemas dan buntu sebagai balasan di atas penderhakaannya
kepada Allah.
Hidayah itu ialah
petunjuk yang dikurniakan Allah kepada manusia untuk mencapai kesejahteraan dan
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Berdasarkan definisi di atas,
dapatlah disimpulkan bahawa hidayah mempunyai pelbagai dimensi tafsiran, di
antaranya hidayah Islam, hidayah al-Quran, hidayah Nabi dan para sahabatnya,
hidayah kebenaran, hidayah jalan yang lurus dan sebagainya. Biar apa pun tafsiran
dari sudut klasifikasi hidayah, namun pengertiannya yang beraneka itu tetap
membawa maksud yang sama iaitu hidayah petunjuk ke arah kesejahteraan dan
kebahagiaan abadi.
Islam
menganjurkan umatnya agar sentiasa memohon hidayah petunjuk daripada Allah ke
arah jalan yang benar. Lebih-lebih lagi perjalanan hidup yang penuh berliku
semestinya ditempuhi oleh setiap insan menuntut sedikit sebanyak ketabahan,
kesabaran dan pertolongan Ilahi agar dia berjaya dalam hidupnya. Oleh sebab
itulah, Islam mensyariatkan amalan berdoa dan memohon petunjuk daripada Allah
kepada setiap Muslim yang beriman kepada-Nya.
Perlu diinsafi bahawa hidayah petunjuk
yang dianugerahkan Allah kepada seseorang manusia sebenarnya tidak boleh diukur
berdasarkan kepada keadaan lahiriah semata-mata. Sebaliknya, ia amat bergantung
kepada keimanan dan ketakwaan yang bertapak kukuh dalam jiwa sanubari seseorang
manusia. Dalam erti kata lain, Allah hanya mengurniakan hidayah-Nya kepada
hamba-hamba yang benar-benar beriman dan bertakwa sahaja. Firman Allah yang
bermaksud: Wahai umat manusia!
Sesungguhnya telah datang kepada kamu al-Quran yang menjadi nasihat pengajaran
dari Tuhan kamu, dan yang menjadi penawar bagi penyakit-penyakit batin yang ada
di dalam dada kamu; dan juga menjadi hidayah petunjuk untuk keselamatan serta
membawa rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(Surah Yunus,
ayat 57)
Selanjutnya,
hidayah Allah tidak ada kaitan dengan hubungan pertalian darah atau
kekeluargaan atau kaum kerabat. Dengan maksud lain, ada orang yang mendapat
hidayah petunjuk dari Allah dan hidup bahagia serta taat kepada segala titah
dan perintah Ilahi, akan tetapi anaknya adalah seorang yang amat derhaka kepada
Allah dengan melakukan segala kemungkaran dan maksiat yang terlarang
sebagaimana kisah yang berlaku kepada Nabi Nuh a.s. dan anaknya. Begitu juga
Rasulullah sendiri dengan bapa saudaranya Abu Lahab.
Sebaliknya ada
juga orang fasik yang sentiasa bergelumang dengan dosa tetapi anaknya pula
adalah seorang yang soleh dan patuh kepada ajaran Islam. Ini berlaku kepada
Nabi Ibrahim dengan ayahnya yang juga seorang pengukir patung berhala.
Oleh sebab itu,
kita tidak boleh menyangka bahawa orang yang selalu melakukan kejahatan itu
susah untuk menerima kebenaran dan kesedaran serta tidak akan mendapat hidayah daripada
Allah kerana hanya Allah sahaja yang berkuasa memberikan hidayah-Nya kepada
sesiapa sahaja yang dikehendaki-Nya.
Dari sini, dapat
disimpulkan bahawa hidayah petunjuk adalah di bawah bidang kuasa Allah sahaja
sehingga para nabi dan rasul sekalipun tidak mampu untuk memberi hidayah kepada
sesiapa yang dikehendakinya. Ini kerana Allah menegaskan bahawa para nabi dan
rasul diutuskan untuk menyampaikan berita gembira dan peringatan serta menyeru
manusia ke jalan yang benar dengan izin-Nya. Tentang mereka sama ada kelak akan
menjadi orang yang memperolehi hidayah petunjuk atau tidak, urusan tersebut
terpulang kepada Allah semata-mata. Bagi para nabi dan rasul, tugasnya hanyalah
menyampaikan sahaja kerana tidak ada siapa yang dapat memberi petunjuk melainkan
Allah sahaja.
Sehubungan itu
Allah berfirman yang bermaksud: Tidaklah kamu diwajibkan (wahai Muhammad)
menjadikan mereka (yang kafir) mendapat petunjuk, (kerana kewajipanmu hanya
menyampaikan petunjuk) akan tetapi Allah jualah yang memberi petunjuk (dengan
memberi taufik) kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut undang-undang
peraturan-Nya). Dan apa jua harta halal yang kamu belanjakan (pada jalan Allah)
maka (faedahnya dan pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri. Dan kamu pula
tidaklah mendermakan sesuatu melainkan kerana menuntut keredaan Allah. Dan apa
jua yang kamu dermakan dari harta yang halal akan disempurnakan (balasan
pahalanya) kepada kamu, dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan.
(Surah al-Baqarah, ayat 272)
Ibnu Kathir dalam
kitab tafsirnya Tafsir al-Quran al-Azim ada menyebut sebab turunnya ayat suci
tersebut ialah terdapat beberapa orang Islam yang bersedekah kepada fakir
miskin perduduk Madinah, kemudian setelah ramai bilangan orang yang masuk
Islam, maka Rasulullah telah menegah daripada memberi sedekah kepada
orang-orang musyrikin. Tujuannya ialah untuk menarik mereka supaya menganut
Islam kerana Rasulullah sangat mengambil berat akan hal ehwal mereka. Lalu
turunlah firman Allah tersebut yang memerintahkan baginda agar terus memberikan
sedekah kepada mereka.
Biarpun hidayah
Allah itu menjadi milik mutlak Allah, namun umat Islam dituntut untuk
menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang bukan Islam kepada ajaran Islam
dan beriman kepada Allah. Untuk itu, Islam telah menggariskan tiga kaedah
berdakwah yang berkesan sebagaimana termaktub dalam firman Allah yang
bermaksud: Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmah
kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka
(yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalan-Nya dan
Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat hidayah
petunjuk.
(Surah al-Nahl, ayat 125)
Ayat suci di atas
menegaskan bahawa dakwah yang baik dan berkesan seperti yang dianjurkan oleh
Islam hendaklah berpaksikan kepada tiga kaedah berikut iaitu:-
- · Berdakwah secara hikmah atau bijaksana
- · Memberi pengajaran atau contoh teladan yang baik
- · Bertukar-tukar fikiran atau berdialog dengan cara yang lebih baik .
Oleh itu, setiap
Muslim sewajibnya mempergiatkan usahanya untuk berdakwah dan juga bersabar
dalam menjalankan usaha-usaha dakwah Islamiah kepada bukan Islam agar ia
mencapai matlamat yang disasarkan Islam iaitu keadilan Islam dan keharmonian
hidup serta kecemerlangan dalam segala lapangan hidup . Hidayah dan petunjuk
Allah akan sentiasa mengiringi setiap langkah dan jalan yang diterokai oleh
orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya dalam rangka untuk menegakkan
kalimah Allah di muka bumi Allah ini.
src :
http://blogs.udm.edu.my/drkuzaki/2008/05/12/hidayah-petunjuk-allah
: http://4ayesha.blogspot.com/2008/08/hidayah-petunjuk-allah.html
Sunday, August 9, 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)